Puisi Pribadi 1 - Penyu Biru

Puisi Pribadi 1

Puisi Pribadi 1
Seisi halaman waktuku saat ini nampak putih, sunyi, dan sepi
Kiranya kau takkan datang, membasuh sepi dan menepis sunyi
Ketika aku tertawan rindu, atas hadirmu menyapa hati
Dan ketika aku menantimu, atas sosokmu membuka halaman baru sejak bertemu
Dan kau pun kan kutunggu di dermaga rindu...

Jika hati adalah istana, maka cinta adalah singgasana
Jika ketulusan ialah mahkota, kesetiaan ialah piala terindah
Dan senyum seorang kekasih sepertimu bagiku adalah tahta...

Wahai kekasihku, cinta telah datang dengan cahaya gemerlapnya.
Gelapnya malam takkan mampu bersanding dengannya.
Aku menemukannya jauh di dasar hati, kuangkat ia lebih tinggi menuju keagungannya.
Dan ia memberiku semua cahayanya untuk kuberikan padamu.
Cahaya penuh harapan untuk kita berdua.
Kuharap kau kan menerimanya...

Aku seperti ombak kecil di luasnya samudera hatimu.
Teruji oleh ganasnya gelombang dan lewati terjalnya karang.
Semua cobaan tak kupedulikan.
Aku pasti mampu bertahan dan menambatkan bahtera cinta di pelabuhan hatimu.
Karena kutahu kau hanya milikku hingga ujung waktu memisahkan kita berdua...

Di keheningan malam
kuratapi kehidupan ini
yang penuh teka-teki
Pernahkah malam tahu
bila aku rindu?
Pernahkah bintang tersenyum
bila aku gembira?
Tidak, karena aku terbiasa
sunyi, sepi, sendiri
dalam kehidupan ini
Rasa hampa dalam keramaian
berhenti berharap
Tak kutemukan arah
lelah, aku di persimpangan jalan
Haruskah aku memilih lari
atau uduk menyendiri menanti mati..


Artikel Puisi Pribadi 1 Selesai!

Demikian posting Penyu Biru pada kategori Diari kali ini. Jika kamu merasa tulisan saya tentang Puisi Pribadi 1 ini bermanfaat, mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar atau bagikan artikel ini ke media sosial 🙏

Berlangganan artikel terbaru via email :

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

1 komentar pada "Puisi Pribadi 1"

  1. Kesepian adalah burung burung gagak, yang mengitari mangsanya.
    Kesunyian adalah mata elang raja, yangmengawasi buruannya.
    Imanlah perisai kita ketika mereka datang mendera.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel