Kuliah, Kebutuhan atau Gengsi? - Penyu Biru

Kuliah, Kebutuhan atau Gengsi?


Ketika Perguruan Tinggi dihadapkan pada siswa/siswi SMU, berbagai komentar muncul ke permukaan, "Architecture... Aku pilih itu untuk bekal nerusin bisnis orang tua di bidang property".

"Kuliah aja dulu.. Toh nggak ada jaminan kalo kerjanya nanti sama dengan jurusan waktu kuliah, kan ada sarjana politik yang menjadi Marketing Manager" atau "Di kampus yang ngetop dong, kan kredibilitasnya bisa jadi pegangan". Tak jarang nada miris juga mewarnai kumpulan komentar tersebut, "...bapak saya orang kecil mas".

Bagi para orang tua, pokok permasalahan tidaklah melulu pada pilihan jurusan / fakultas yang akan digeluti nantinya oleh buah hati mereka. Biaya, juga menjadi pokok permasalahan utama. Sebagian orang akan berpendapat untuk tidak menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, semata-mata karena urusan biaya.

Di era daya beli masyarakat yang turun drastis seperti saat ini, uang kuliah sebesar Rp 75 juta bukanlah masalah mudah untuk diputuskan. Iya kalau tidak putus di tengah jalan. Kalau putus, bukanlah lebih baik uang sebesar itu dijadikan modal untuk berdagang.

Kelompok yang berbeda akan menimbang-nimbang antara kemampuan dan kocek, kecerdasan dan talenta anak, serta tidak jarang dikaitkan dengan prediksi "kantong-kantong" lapangan pekerjaan yang cukup luas bila anaknya menjadi sarjana kelak.

Kelompok yang lain lagi tidak mempermasalahkan berapa biaya kuliah yang akan dikeluarkan, yang penting anaknya dapat kuliah di perguruan tinggi top dan bukan yang belum populer. Masih banyak komentar-komentar lainnya yang tidaklah cukup dimuat di sini.

Pilihan yang bijaksana ialah memperhitungkan uang kuliah tidak sebagai biaya, namun investasi pendidikan. Dengan pertimbangan tersebut, maka pertimbangan-pertimbangan bijaksana lainnya akan muncul dan saling mendukung satu sama lain, mulai dari memilih perguruan tinggi dan jurusan yang sesuai dengan bakat serta kecerdasan anak, sampai dengan mendiskusikannya diantara anggota keluarga bagaimana mengelola "investasi pendidikan ini", dengan suatu cita-cita tidak putus di tengah jalan.

Tidak jarang, pengambilan keputusan yang tidak matang, menjadikan mahasiswa/mahasiswi menjadi sangat dekat dengan kata "Drop Out" (DO). Atribut "mahasiswa / mahasiswi DO" memiliki peran dalam menciptakan stress tertentu dan tidak jarang mahasiswa dan mahasiswi tersebut sulit untuk keluar dari perangkap stress tersebut.

Gengsi kalau tidak kuliah di perguruan tinggi ngetop atau mulailah dengan langkah bijaksana dalam menentukan pilihan.


Artikel Kuliah, Kebutuhan atau Gengsi? Selesai!

Demikian posting Penyu Biru pada kategori Artikel kali ini. Jika kamu merasa tulisan saya tentang Kuliah, Kebutuhan atau Gengsi? ini bermanfaat, mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar atau bagikan artikel ini ke media sosial 🙏

Berlangganan artikel terbaru via email :

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Belum ada komentar pada "Kuliah, Kebutuhan atau Gengsi?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel